“tulisanmu buayamu” , Belajar dari ‘terpelesetnya’ Luna Maya

December 21, 2009

Jika biasanya “mulutmu harimaumu”, barangkali istilah tepat yang dapat kita petik hikmahnya dari kasus yang tengah menimpa aktris cantik Luna Maya adalah, “tulisanmu buayamu”.

Mulutmu Harimaumu, source: http://wadinohellozach.blogspot.com/

Percaya atau tidak, maka percayalah bahwa apa yang kita tuliskan (di blog, status, notes, atau komentar lainnya di facebook) sesederhana dan sependek apapun tulisan itu, ternyata sangat berpengaruh bagi kehidupan diri kita pribadi dan orang lain, baik atau buruk.

Baik jika apa yang kita sampaikan lewat tulisan itu baik, dan buruk jika apa yang kita sampaikan itu buruk. Jangan sepelekan hal ini kawan, karena bisa jadi tulisan memiliki kekuatan/dampak yang lebih besar dibandingkan ucapan. Nah, disini kita coba petik hikmah sederhana yang dapat kita ambil dari terpelesetnya Luna Maya karena tulisan pendek berupa ungkapan perasaannya yang tidak terkontrol di Twitter.

Pertama, kita jangan menertawakan Luna Maya yang tengah terpeleset itu,

karena kita juga mungkin akan melalui jalan licin yang sama seperti jalan yang ditempuh Luna Maya. Di saat karirnya yang cukup menanjak kita belum tahu seberapa besar emosi yang dirasakan Luna Maya, saat rekan-rekan dari infotainment merongrongnya hingga Luna Maya harus mendobrak tembok kesabarannya dengan sikap yang kurang atau bahkan tidak pantas disampaikan seorang public figure. Dan ini adalah saat bagi kita untuk mengalihkan tenaga dan perhatian dari menikmati kesalahan orang lain, menjadi tenaga dan upaya untuk mencegah diri kita dari melakukan kesalahan yang sama.

Kedua, mulai sekarang jangan menuliskan keluhan mengenai hal-hal yang tidak perlu untuk kita keluhkan di sembarang tempat. Atau sakleknya, kalau tidak penting untuk dikeluhkan, jangan mengeluh, di manapun itu. Kenapa? Biasanya sifat mengeluh itu menular, dan saat kita mengeluh, selalu ada saja kelanjutan hal-hal yang kemudian kita keluhkan. Orang tua bilang “satu keluhan dapat melepaskan 1000 keluhan lain dari ikatannya”. Bukan berarti tidak boleh mengeluh ya, tetapi yang perlu kita perhatikan disini adalah kualitas keluhan dan tempat yang tepat untuk kita mengeluh, itu yang jadi pertimbangannya. Jangan mengeluhkan kualitas beras ke toko besi, karena itu tidak akan nyambung, kecuali kalau kita beli beras tadi di toko besi.

Kembali lagi ke soal, apa yang diungkapkan Luna Maya merupakan keluhan atas sikap rekan-rekan infotainment yang dirasa tidak baik terhadapnya. Luna berhak mengungkapkan perasaannya itu, tapi mengenai cara dia menyikapinya dengan mengajukan kecaman tanpa disertai fakta, itu yang tidak benar. Lalu bagaimana dengan kasus email Ibu Prita dengan Rumahsakit OMNI ? Ya itu juga keluhan, tapi mari kita perhatikan bahwa keluhan yang disampaikan Ibu Prita merupakan kontrol sosial yang disertai fakta, dan bukankah banyak masyarakat yang kemudian mendukung Ibu Prita dengan gerakan pengumpulan koin itu?

Ketiga, apa yang kita sampaikan lewat tulisan, sependek apapun, tidak lain adalah wakil dari apa yang kita ucapkan, dan kita sudah sama-sama tahu bahwa apa yang kita ucapkan merupakan salah satu cerminan dari kepribadian kita, yang menunjukan siapa kita. Maka berhati-hatilah setiap hendak berkomentar, berpendapat, atau menuliskan status di facebook dan status jejaring social lainnya. Hal ini bukan bermaksud agar kita seolah-olah tidak menjadi diri sendiri ya, atau berpura-pura baik. Tidak! Bukan begitu, kita semua baik yakinlah itu. Engkau yang saat ini merasa sebagai orang yang tidak baik, sedang terkurung oleh sikapmu yang tidak baik. Perasaan marah dan kesal dirimu pada keadaanmu itu, adalah bukti bahwa dirimu baik. Sekali lagi, kita sebetulnya pribadi yang baik. Hanya orang yang tidak baik yang berpura-pura menjadi baik. Begini, bukankah impian yang kita gemakan di setiap akhir tahun adalah agar di tahun depan kita menjadi pribadi yang lebih baik? Dan sekali lagi, bukankah sebetulnya kita pribadi yang baik?

Maka dari itu, penting bagi kita untuk memilih mana yang baik untuk kita sampaikan dan mana yang tidak baik kita sampaikan. Dan hey, sebentar, jangan salah lho, barangkali dari sekian list Friends di account facebookmu itu, ada dia calon pendampingmu, yang tengah menantimu, yang tanpa kamu sadari bahwa dia secara diam-diam memperhatikan keseharianmu, yang sesekali mengintip profilmu agar dia tahu siapakah dirimu, memperhatikan satu persatu status dan komentar yang kamu tulis, membuka dan membaca tulisan di blogmu itu kawan, berharap bahwa dirimu adalah pribadi tangguh, lalu dengan rasa penasaran yang memuncak di dalam dada, dengan lirih dia berkata “Tuhan mungkinkah dia?”, lebih jauh mungkin ada seorang Ayah, Pejabat Negara yang baik, yang sedang mencari calon menantu untuk kemudian dinikahkan dengan putri atau putranya, dan mungkinkah dia calon mertuamu?, nah lho, atau ada seorang Bos yang sedang membutuhkan seorang ahli di bidang tertentu, dan mungkin kamu adalah ahli di bidang itu ? Dan, bukankah ada yang lebih perhatian dari mereka semua? itulah Dia kawan, kau pasti tahu!

Engkau mungkin tertawa, tapi saya percaya kemungkinan itu ada. Lalu apa yang terjadi jika mereka ternyata mendapati dirimu, dengan status, notes, atau komnetar yang malah mengeluhkan hal-hal remeh, penuh ungkapan kasar, cacian, dan ungkapan buruk lainnya yang sebetulnya tidak pantas disampaikan oleh pribadi sebaik kamu? Benar semua itu terserah padamu, karena itu hidupmu, tapi tidakkah kita merasa kasihan pada diri kita sendiri? Atau pada mereka yang merindukan kita tampil gagah, mengharapkan kita sebagai jalan bagi Tuhan untuk mengabulkan harapan-harapan mereka?

Terakhir, di awal Tahun baru ini, yuk kita lihat kedalam diri sendiri, barangkali selama kita mengungkapkan sesuatu dalam bentuk tulisan di dunia maya ini, banyak diantaranya malah berupa sesuatu yang tidak bermanfaat, menghina/merendahkan diri sendiri, melukai perasaan dan merendahkan orang lain. Lalu kita ganti dengan doa sederhana tapi besar dampaknya, dengan gurauan namun bukan semabarang gurauan, gurauan tapi yang menceriakan, pesan-pesan lucu, pesan yang memotivasi dan menyemangati. Mungkin akan lebih baik jika seperti itu.

Spesial buat kawan-kawan bloger, mungkin akan lebih indah jika kita tidak hanya berfokus pada kuantitas tulisan kita di blog itu, tetapi fokus juga pada kulitas dari setiap karya kita. Lebih baik banyak dan berkualitas dari pada sedikit tapi tidak berisi.

Begitu dulu ya? Terimakasih banyak kawan, karena berkenan meluangkan waktu membaca  ini, semoga ada manfaatnya.😀

Sahabat mu, Ega.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: